06 April 2009

SHS Gubernur Pertama Raih Presidential Citation

MANADO – Gubernur SH Sarundajang berkali-kali mendapatkan standing ovation di Istana Malacanang, Manila Filipina, kemarin. Terlebih saat Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo memberikan penghargaan Presidential Citation kepada gubernur pertama pilihan langsung rakyat Sulut itu.
Penghargaan tertinggi Pemerintah Filipina ini baru pertama kali diberikan buat seorang gubernur negara lain, sejak Presiden Arroyo memegang tampuk pemerintahan. Presidential Citation ini merupakan pengakuan resmi Presiden (Filipina) atas kapabilitas dan kualitas serta jasa-jasa yang ditunjukkan.
Pantauan koran ini langsung dari Manila, pukul 09.30 WITA Gubernur SH Sarundajang telah dijemput protokoler pemerintah Filipina dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina, Prof DR Irsan Tandjung di Manila Hotel, menuju Istana Malacanang. Sesampai di Malacanang, Gubernur Sarundajang dan rombongan diterima di ruang khusus. Tepat pukul 10.00 Wita, momen bersejarah penganugerahan Presidential Citation itu digelar.
Gubernur Sarundajang terlebih dahulu terlibat pembicaraan empat mata dengan Presiden Arroyo. Intinya, Arroyo sangat berterima kasih atas jasa dan peran besar Sarundajang dalam mempererat hubungan Indonesia dan Filipina. Terlebih khusus Sulut dan Filipina Selatan yang memang berbatasan langsung.
Pemerintah Filipina tahu persis, saat menjabat Wali Kota Bitung, Sarundajang telah membuka isolasi Sulut-Filipina Selatan. Itu dimulai 21 tahun lalu atau pada 1988. Baik hubungan dagang, pertukaran siswa di bidang pendidikan, kebudayaan, sister city, hingga menggagas terbentuknya kerja sama Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines – East Asean Growth Area (BIMP-EAGA). “Pemerintah Filipina sangat berterima kasih, karena peran SH Sarundajang sejak Wali Kota Bitung tidak saja membuat hubungan Sulut dan Filipina Selatan terjalin baik, tapi lebih daripada itu hubungan Indonesia dengan pemerintah Filipina,” tukas Jenderal Efran Abu, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Filipina yang kini menjadi penasehat Presiden Arroyo tentang BIMP-EAGA.
Atas penghargaan yang diterimanya itu, SHS menyatakan itu adalah buah kerja keras seluruh masyarakat Sulut. "Ini adalah penghargaan bagi seluruh warga Sulut,” tegas SHS.
Dubes Indonesia di Filipina Prof DR Irzan Tandjung mengaku sangat bangga atas penilaian positif pemerintahan Arroyo terhadap Sarundajang dalam berbagai hal. “Tidak pernah gubernur di Indonesia mendapatkan penghargaan ini. Ini prestasi luar biasa,” katanya.
Bahkan, lanjut Dubes, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat senang prestasi Sarundajang ini. Apalagi jasa tersebut membuat hubungan Indonesia dengan Filipina menjadi sangat baik. Sebelum SHS, Menlu Hasan Wirayuda juga menerima Sikatuna Award.
Usai menerima penghargaan, SHS dan rombongan kecil diperkenankan melihat dari dekat semua sudut ruangan Istana Malacanang nan bersejarah.
Tak hanya itu, Pemerintah Filipina ternyata menanggung semua biaya. Bahkan, tak hanya SHS seorang, delegasi Sulut yang berjumlah 10 orang pun ikut ditanggung Pemerintah Filipina. Rombongan wartawan ikut diboyong menginap di tempat bersejarah, Manila Hotel yang berdiri sejak 1912 dan tak diubah keasliannya. “Terima kasih, terima kasih,” kata Sekretaris Eksekutif BIMP-EAGA Shelley Sondakh dan Direktur BP KAPET Manado-Bitung Hana Mandagi.
HADIR WOC-CTI SUMMIT
Sementara itu, Presiden Arroyo dipastikan akan menghadiri WOC-CTI Summit di Manado, 11-15 Mei mendatang. “Presiden Arroyo dipastikan hadir dalam CTI Summit dan sejumlah menteri di ajang WOC,” ungkap SHS.
Ini dipertegas Dubes Indonesia untuk Filipina Prof DR Irzan Tandjung. Menurutnya, KBRI telah mendapatkan kepastian keikutsertaan Presiden Arroyo dan sejumlah menteri. “WOC ini adalah gagasan luar biasa dan tepat waktu. Sehingga Pemerintah Filipina memberi apresiasi positif,” katanya seraya menyebut, pihaknya bangga karena substansi WOC telah mengharumkan nama baik Indonesia di mata internasional. Karena WOC adalah ide kemanusiaan dan seluruh yang hidup di dunia berkepentingan dengannya.
Di sisi lain, Tandjung ikut menyentil soal pelaksanaan Pemilu 9 April 2009. Menurutnya, sekitar 10 ribu warga Indonesia yang didominasi warga Sulut di Filipina Selatan masuk dalam daftar pemilih tetap. “Umumnya warga Sulut. Sesuai ketentuan, suara masyarakat Sulut di luar negeri disalurkan di Dapil II DKI Jakarta,” katanya, seraya menyatakan jauh sebelum terbentuknya negara, Indonesia dan Filipina, sebetulnya sudah berabad-abad warga Sulut bermukim di Filipina Selatan. Bahkan, sudah beranak cucu. (mms)

1 komentar:

Richard Rondonuwu mengatakan...

TYrips here!!!

Kita yang beking trit di kaskus regma "blogger Manado"..,

keep posting bro!!